oleh Amin Rauf
(KORAN TEMPORubrik BukuEdisi 2006-04-16)
Sejarah diri (biografi) tidaklah mutlak milik pribadi. Selalu saja ada orang lain di belakangnya yang ikut serta, walaupun terkadang tidak diinginkan keberadaannya. Yang ikut serta dan yang tak diinginkan itu adalah Floria.
Floria adalah nama asing. Dia tidak ditemukan dalam literatur-literatur. Padahal dia adalah sosok penting dan agen dalam sejarah Kristen. Tidak banyak yang tahu, termasuk kebanyakan orang-orang Kristen, hingga akhirnya ditemukan Codex Floriae, surat panjang yang ditulisnya pada sekitar abad ke-4.
Begitulah Floria menegaskan dirinya. Dia menulis Codex Floriae setelah membaca Confession (Pengakuan) karya Agustinus. Santo Agustinus--yang lahir di Tagaste, Numedia (Aljazair) pada 13 November 354 Masehi dan meninggal di Hippo Regius pada 28 Agustus 430 Masehi--adalah salah seorang bapak gereja yang dihormati karena kewibawaannya dan pujangga gereja karena pemikirannya yang luas dan mendalam. Dan Floria adalah ibu Adeodatus, buah cinta Agustinus dengan Floria.
Apakah Codex Floriae ini tulisan asli kekasih Agustinus? Anne Borg, salah seorang yang pernah meneliti Codex Floriae, meyakini keasliannya. Dia mendasarkan keyakinannya itu pada bahasa yang sintaksis dan kosa katanya terlihat tergores lama. St Sunardi dalam pengantar buku ini juga meyakini itu, tentunya dengan mengecek silang momen penting dalam Codex Floriae dengan Confession.
Buku Vita Brevis karya pengarang novel laris Dunia Sophie, Jostien Gaarder, ini merekam ulang Codex Floriae. Gaarder menulis buku ini setelah menemukan Codex Floriae di sebuah toko buku di pasar loak San Telmo, Boenos Aires, pada 1995.
Diceritakan dalam buku ini, Floria bertemu dengan Agustinus di Carthage, saat mereka sama-sama bermaksud belajar retorika. Saat itu sekitar tahun 370 Masehi. Floria berumur 16 tahun, seperti halnya Agustinus. Di akhir perjumpaan pertama, mereka pulang bersama dan berbagi tempat tidur. Delapan belas bulan kemudian mereka dikaruniai seorang anak laki-laki dan diberi nama Adeodatus. Di sana mereka hidup bersama selama 14 tahun lebih.
Mereka akhirnya harus berpisah karena dihadapkan pada dua tantangan yang beruntun: Monica, ibunda Agustinus, dan Si Pengendalian Diri, Tuhan dari Nazaret. Monica tidak menyetujui kedekatan anaknya dengan Floria. Dia lebih menginginkannya menikah dengan seorang gadis dari keluarga berada. Floria kemudian dikirim ke Afrika. Setelah Monica meninggal, giliran Si Pengendalian Diri memisahkan mereka meski mereka mengulangi "hidup lama" sesaat setelah Agustinus masuk Kristen dan dibaptis pada 387 Masehi.
Setelah Agustinus diangkat menjadi uskup di Hippo pada 396 Masehi dan menulis Confession pada sekitar 397 Masehi (selesai sekitar 400 Masehi), keduanya bertemu kembali. Namun, kali ini pertemuan mereka bukanlah dalam bentuk kontak fisik. Mereka saling "menyapa dalam dunia ide". Floria membaca Confession yang dipinjam dari salah seorang uskup, tapi diragukan apakah Codex Floriae sampai ke tangan Agustinus.
Menarik memang karena surat panjang ini bukanlah sekadar sebentuk surat pribadi. "...aku menganggap surat ini lebih daripada surat pribadiku kepadamu," tulis Floria. "Surat ini juga ditujukan kepada Uskup Hippo Regius." (halaman 29)
Floria tidak sekadar berbicara tentang rasa sakitnya karena ditinggalkan Agustinus, rasa benci Floria terhadap Monica karena dipisahkan dari Agustinus, dan kegeramannya karena dipisahkan dari buah hatinya, Adeodatus. Tapi dia sebagai orang yang terdidik juga menunjukkan pemikiran yang melampaui zamannya. Selain masalah individu dan agama, dia berbicara tentang feminisme, filsafat, bahkan psikoanalisis.
Floria memang kesal karena pengakuan itu menempatkan dirinya seolah-olah sebagai penggoda dan penyumbang banyak dosa bagi kehidupan Agustinus dan dengan demikian harus dijauhi. Lantas Adeodatus, hasil hubungannya dengan Agustinus, dianggap sebagai "buah dosa". Floria membantah sikap egoistis Agustinus.
Floria juga tidak berbicara sebagai Floria. Dia berbicara sebagai perempuan yang selalu menjadi pihak yang kalah dan hina. Entitas yang selalu menjadi second sex dalam sistem dan kesadaran yang senantiasa patriarkis. "Sainganku bukanlah perempuan yang dapat kulihat dengan mata telanjang, sainganku adalah sebuah prinsip filsafat," tulisnya. Lalu dia melanjutkan, "Sainganku bukan hanya sainganku sendiri. Ia adalah saingan semua perempuan...." (halaman 20)
Selain itu, yang menarik dalam Codex Floriae, Floria menggunakan mitos Oedipus, jauh sebelum Sigmund Freud menggunakannya. Dalam teori psikoanalisis, Oedipus kompleks digunakan untuk memaparkan seorang anak yang mengarahkan gairah seks pertamanya kepada ibunya dan iri kepada bapaknya. Floria menggunakan mitos Oedipus untuk menggambarkan hubungan Agustinus, ibunya, dan Tuhan. Agustinus begitu terikat kepada ibunya hingga ia tidak berani mengambil keputusan untuk menikah dengan Floria. Setelah Monica meninggal, Agustinus melarikan diri pada Si Pengendalian Diri. Bagi Floria, pelarian diri kepada Tuhan ini adalah bentuk pengebirian diri, layaknya Oedipus yang membutakan matanya setelah mengawini ibunya.
Dari sini juga Floria beralih pada perdebatan tentang Tuhan. Floria pernah menjadi katekumen (calon baptis), tapi dia menolak dibaptis karena dia mempunyai penafsiran sendiri tentang Tuhan. Tuhan, menurut dia, adalah cinta. Tapi Tuhan Agustinus begitu menakutkan yang menginginkan umatnya hidup dalam abstinensi. Tuhan yang tidak mengenal cinta. Tuhan yang membuat Floria dan Agustinus terpisah.
Vita Brevis memang tidak mengasyikkan. Tidak seperti karya-karya Gaarder lainnya yang penuh imajinasi dan misteri, seperti Dunia Sophie (terjemahan Mizan, 1996), Misteri Soliter (terjemahan Jalasutra), dan Gadis Jeruk (terjemahan Mizan, 2005), buku yang diterjemahkan dari versi bahasa Inggris, That Same Flower, ini layaknya film yang dinovelkan yang banyak akhir-akhir ini, dengan ide-ide yang dikondisikan. Ini bisa dimengerti mengingat buku ini ditulis berdasarkan Codex Floriae. Gaarder tak lebih dari sekadar "pekerja" pembuat catatan kaki. Namun, dari buku ini kita banyak mengerti misteri kekasih Santo Agustinus, sebuah kehidupan yang tidak sempat terekam dalam pengakuannya.
Senin, 20 April 2009
Pengakuan untuk Sebuah Pengakuan
Diposkan oleh Amen Raof di 13:52 0 komentar Link ke posting ini
Selasa, 17 Juni 2008
Laskar Cinta
Salah satu kelompok terbesar yang bertanggung jawab atas eskalasi kekerasan pada tahun 1999 adalah Laskar Jihad ("Warriors of Jihad"), sebuah milisi keras yang dipimpin oleh Jakfar Umar Thalib, seorang veteran jihad Afghan yang mengaku telah bertemu dengan Osama bin Laden. Ketika sebuah perselisihan antara seorang sopir bus yang beragama Kristen dengan seorang penumpang Muslim yang menolak membayar karcis meningkat menjadi kekerasan komunal di kepulauan Maluku pada Januari 1999, milisi Thalib memberangkatkan ribuan pejuang ke daerah tersebut menggunakan perahu untuk "melancarkan jihad." Konflik itu berlangsung tiga tahun; diperkirakan 10,000 orang tewas di pihak penduduk Ambon saja, dan sekitar setengah juta terusir dari rumah mereka. Karena peran utamanya dalam krisis tersebut, Laskar Jihad menjadi, menurut mantan Presiden Indonesia Abdurrahman Wahid dan C. Holland Taylor, "sebuah simbol dan tipikal bagi penderitaan yang ditimpakan ke daerah tersebut." Maka tepatlah, memasuki keterlibatan politis, Dhani merujuk pada kelompok radikal itu dalam judul album Nopember 2004 Dewa. Ia berjudul Laskar Cinta, Warriors of Love.
Tahun ini, Dhani menyusuli usahanya tahun 2004 dengan sebuah album baru, Republik Cinta ("Republic of Love"). Salah satu lagu dalam album tersebut berjudul Laskar Cinta. Sekalipun beberapa pendengar mungkin bingung bahwa lagu tersebut menyandang judul yang sama seperti album Dewa sebelumnya, Dhani menuturi Rolling Stone edisi Indonesia bahwa ini bukan hal yang tidak lumrah. Dengan bangga dia mengemukakan bahwa band favoritnya, Queen, juga pernah berbuat demikian.
Laskar Cinta merupakan sebuah lagu inovatif, didesain sebagai sebuah "fatwa musikal" melawan ekstremisme. Liriknya merefleksikan keyakinan tasawuf Dhani: lirik-lirik itu diilhami oleh al-Qur'an dan ahadith (sabda Nabi Muhammad saw.) dengan maksud menunjukkan kesalahan ideologi kebencian yang mengilhami kaum radikal. Bahkan ada sebuah versi on-line lagu tersebut yang diberi anotasi yang membuat inspirasi teologis di balik ayat-ayat yang eksplisit. Dan ia mendapat pendengar: Laskar Cinta menjadi lagu no. 1 di Indonesia segera setelah dirilis, sementara video musiknya melesat ke tangga nomor satu pada program MTV Asia popular berbahasa Indonesia dan Malaysia Ampuh.
DHANI ADALAH SEORANG YANG MUNGKIN muncul sebagai tokoh kultural yang menyuarakan visi agama Islam yang damai secara lantang dan terbuka. Sebuah profile Wall Street Journal tentang Dhani diterbitkan pada pertengahan Agustus mencatat bahwa kakeknya "terlibat dalam gerakan gerilyawan Darul Islam, yang di antara para anggotanya tercatat pemimpin kelompok teroris yang mengatur pemboman Bali beberapa tahun yang lalu. Ayah Dhani, Eddy, mengikuti jejak ayahnya, tokoh yang menonjol dalam sebuah organisasi yang menyebarkan ajaran Wahhabi."
Dalam sebuah interview yang dilakukan untuk artikel ini, Dhani melukiskan ayahnya sebagai "seorang fundamentalis Muslim," dan mengatakan bahwa ini membuatnya menyekolahkan Dhani ke seolah Wahhabi "karena dia ingin anaknya punya perspektif pengaruh Wahhabi." Dhani mengikuti sekolah ini selama enam tahun. Meski ada ketakutan di rumah dan di sekolah, Dhani mulai bermain musik ketika dia telah berusia enam tahun. Banyak sekolah pemikiran Islam konservatif menganggap musik haram, atau dilarang oleh hukum Islami, dan Dhani menuturkan bahwa dia telah menerima ajaran-ajaran ini. Dia sangat sadar, meski demikian, bahwa dia tidak pernah diberitahu bahwa bermain musik adalah sebuah kejahatan, haram.
Dhani merasa ditakdirkan untuk bermain musik. Joyce ibunya, seorang Katolik Roma yang masuk Islam, adalah seorang musikus dan memperkenalkannya dengan musik sejak belia. Dhani menyatakan bahwa musik adalah satu hal yang secara konsisten telah memberinya kesenangan: "Musik adalah satu-satunya yang membuat saya senang. Saya tidak suka melakukan apa pun selain musik. Saya tidak suka mengendarai motor atau sepeda pancal; saya tidak suka apa pun selain musik." Begitulah Dhani mengikuti band pertamanya tahun 1987, ketika dia masih belasan.
Namun bahkan sebagai seorang musikus--dan bahkan setelah menjadi seorang superstar di Indonesia--Dhani melukiskan dirinya sebagai terus menganut pandangan yang sangat tidak toleran. Dia memilih partai politik Islam konservatif ketika punya hak suara, dan tidak menyukai mereka yang tidak memilih partai yang sama. Dia sebenarnya melukiskan dirinya sebagai "seorang embrio Muslim radikal" selama periode ini.
Ketika Dhani berada dalam usia pertengahan dua puluhan, bagaimanapun, pandangannnya mulai berubah. Sebuah faktor uatama dalam transformasinya adalah penjelajahannya ke dunia tasawuf. Sekalipun tasawuf tidak dikenal secara universal untuk kedamaian, ia kerap dilukiskan dalam hal-hal yang Dhani gunakan untuk itu: "Tasawuf adalah dimensi batin, spiritual Islam yang fokus bukan pada apa yang memisahkan orang-orang dari yang lain atau Allah; tetapi lebih pada apa yang menyatukan kita. Tasawuf mengajari Muslim untuk mencintai dan menghormati semua makhluk Allah, dan bahkan dengan jelas tidak menyakiti siapa pun."
Adalah perubahan dari pandangan fundamentalis menuju pandangan sufi yang telah membuat Dhani lebih toleran terhadap perbedaan religius dan kultural--dan, akhirnya, perubahan pandangan ini mengubahnya menjadi seorang laskar kultural yang bertempur melawan kebencian dan ekstremisme.
DHANI BUKANLAH SATU-SATUNYA TOKOH dalam industri entertainmen Indonesia yang mengambil sikap melawan sentimen ekstremis yang sedang tumbuh di negeri itu. Orang Indonesia lain yang mengambil sikap demikian pula adalah direktur film Joko Anwar, yang baru-baru ini mengerjakan sebuah film berjudul Dead Time, yang bermaksud mengkritik secara halus usaha-usaha untuk menegakkan hukum sharia. Anwar juga telah menantang beberapa kebiasaan koservatif Indonesia sebagai seorang screenwriter untuk komedi tahun 2003 Arisan!, yang menyapu penghargaan film nasional dan internasional dan dengan cepat menempati rating-tertinggi sitcom TV Indonesia. Saat belajar bahwa larangan ciuman di layar diIndonesia hanya berlaku antara laki-laki dan wanita, Anwar menyusun-ulang script untuk menyoroti film itu jadi menyerupai protagonis gay. Akibatnya, tampilan ciuman sesama jenis menjadi sebuah sensasi nasional, dengan para selebritis berolok-olok menyatakan mereka adalah gay sebagai sebuah pernyataan politik.
Dan sensasi tari "ngebor" Inul Daratista yang sugestif telah memperoleh larangan dari sejumlah kota yang didominasi kaum radikal dan kecaman oleh Majlis Ulama Indonesia. Dia secara terbuka telah mendukung partai politik yang liberal.
Tapi tidak seperti Anwar dan Daratista, pesan Dhani secara eksplisit bersifat religius. Ini terpantul tidak hanya dalam musiknya, tapi juga dalam pernyataan-pernyataan publiknya. Ditanya pada konferensi kebijakan pertahanan tentang apa yang bisa dilakukan untuk menjembatani kesenjangan antara Islam dan Barat, Dhani menjawab bahwa orang di Barat perlu menghormati Islam: bukan menghormati Islam radikal atau ideologi al-Qaeda, tapi menghormati agama itu sendiri. Dhani mengatakan bahwa bukan hanya menyuarakan hormat kepada Islam, tapi agar orang Barat harus benar-benar merasakan hormat ini dalam hati mereka karena bahasa cinta dan hormat itu akhirnya akan dikomunikasikan kembali dengan komunitas Muslim.
Al-Husein Madhany, editor eksekutif Islamica Magazine, mengatakan bahwa elemen religius pesan Dhani tidak boleh diabaikan. "Jika mainstream Muslim tidak terlibat dalam retorika religius," dia memperingatkan, "tidak ada jalan untuk melibatkan pemuda. Apa yang telah kita lihat adalah bahwa mereka yang berhasil dalam melibatkan pemuda dan sedang membuat argumen dengan retorika religius --dengan al-Qur'an, ahadith, dan para syeikh bekumpul mendukungnya-- adalah orang-orang yang memenangkan argumen."
Madhany mengatakan, fakta bahwa Dhani adalah seorang artis terbaik adalah juga penting. Dia menyatakan bahwa para artis adalah penting karena mereka melibatkan kultur lokal, dan juga melibatkan identitas pada beragam tingkatan. "Ketika Anda punya seorang artis yang berbuat demikian dan dia sedang menjual jutaan rekaman, kita perlu mencatatnya dan berusaha menirunya dalam konteks yang lain, termasuk di Amerika," Madhany mengatakan. "Adalah pemuda yang sedang tertarik pada ekstremisme, dan cara mereka tertarik kepadanya adalah melalui retorika religius. Kita perlu mewujudkan pertemuan kreatif untuk itu, dan saya pikir ini merupakan sebuah contoh bagus."
DHANI SUDAH DENGAN AKTIF mencoba melibatkan pemuda, dan menawari mereka sebuah alternatif religius pada ekstremisme. Dia telah mengungkapkan visinya untuk perubahan: "Harapanku adalah bahwa di masa depan, para penggemar Dewa--yang secara primer adalah pemuda dan belum terkontaminasi oleh ideologi dan intoleransi ekstremis--akan tumbuh lebih toleran dibandinkan generasi sekarang dan memutus lingkaran kebencian yang telah mulai melanda masyarakat kita."
Visi Dhani dengan jelas menandai inklusinya pada konferensi kebijakan pertahanan di Colorado Springs. Bagaimana mengembangkan sebuah Islam yang lebih moderat merupakan sebuah pertanyaan amat penting dalam perang melawan teror yang atasnya, saat ini, hanya ada sedikit jawaban yang meyakinkan. Pada akhir hari itu, musikus rock dari Indonesia itu mungkin punya lebih banyak kebijaksanaan untuk dibagikan dibandingkan kebanyakan pembicara yang lain.[]
*Daveed Gartenstein-Ross adalah seorang konsultan senior untuk the Gerard Group International dan penulis buku yang akan segera terbit My Year Inside Radical Islam (Tarcher/Penguin).
Diposkan oleh Amen Raof di 02:04 0 komentar Link ke posting ini

